Always choose happiness

912d28b501d8dcd592e579da4ee6ec3d

Semalam, saya post instastory dengan tulisan seperti judul di atas. Ada beberapa macam balasan. Ada orang yang mengamini, ada yang bercerita kebahagiaannya sudah hilang karena pilihan orang lain, lalu ada juga yang ingin diajari bahagia.

Lah, saya saja masih mencari kebahagiaan.

Ketika mencari definisi bahagia, saya menemukan bahwa bahagia adalah keadaan dimana kita merasa memiliki kehidupan yang baik dengan makna dan kepuasan mendalam.

Saya ingat bahwa Gretchen Rubin dalam bukunya The Happiness Project menyebut beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk mencapai kebahagiaan, seperti energi, cinta, pekerjaan, hiburan, pertemanan, minat, dan lain-lain. Banyak hal yang perlu dibina untuk bahagia.

Lalu apa yang membuat tidak bahagia?

Walt Whitman mengatakan bahwa kita tidak bahagia ketika ada jarak antara standar kita terhadap dunia dan realita yang kita hadapi. Meskipun, ya, standar ini bisa naik atau turun seiring waktu.

Namun, standar ini bisa seperti dua mata pisau dengan kapasitasnya untuk memotong dengan berbagai cara. Pisau ini bisa mengilhami dan memberi kita penghargaan, serta mengontrol dan mengutuk. Pisau ini juga dapat memuluskan jalan kita dan memberi kita semangat. Kemudian, pisau ini bisa membuat kawan atau lawan.

Standar dapat mempengaruhi banyak hal dalam pilihan hidup kita. Adapun, tanpa standar, kita akan kesulitan menjalani hidup.

96c4bff1c271f52e5d72c081eaca2b44

Dalam waktu belakangan ini, saya meninggalkan dan menolak beberapa hal yang saya rasa tidak dapat memenuhi standar yang saya punya, atau gampangnya, tidak membuat bahagia. Prinsip saya, ketika sesuatu tidak baik buat kita, maka kita punya pilihan untuk pergi dan mencari jalan kebahagiaan lain.

Misalnya, ini misalnya ya, ketika sesuatu membuat kita tidak bisa mengembangkan diri, tidak menghargai kita, atau tidak dapat memperlakukan kita dengan baik, maka tinggalkan saja.

Mungkin itu membuat saya terdengar sombong, memiliki standar tinggi, atau independen berlebihan.

Menurut seorang psikolog klinis, Amy Smith, peneliti menemukan bahwa orang-orang yang independen cenderung menderita secara sosial dan profesional. Dengan memilih menjadi mandiri, orang-orang tersebut memiliki risiko untuk merasa tidak didukung dan bahkan menjadi depresi.

Sejujurnya, saya takut kalau hal-hal yang saya tinggalkan itu tidak membuat saya mendapatkan hal yang lebih baik nantinya. Saya takut berakhir menyedihkan. Saya takut kalau hidup saya nantinya tidak akan berjalan seperti yang saya harapkan. Tapi sedikit demi sedikit, saya harus mencoba optimis.

Kalau kata Drew Barrymore, “Happiness is a choice. If you feel yourself being happy and can settle in to the life choices you make, then it’s great. Happiness is the best makeup.”

Saya memilih percaya kalau saya memilih bahagia. 🙂

9848d8c57b07ed49aa8782fdc97f66af